Assalamualaikum Wr. Wb.
Banjir yang melanda kota Jakarta telah banyak menimbulkan kerusakan infrastruktur dan kehilangan ekonomi. Hujan selama 5 hari telah menghanyutkan sekitar 70 % dari wilayah Jakarta. Siapa yang menyangka ibukota yang tersusun megah ini bisa mengalami kerugian besar akibat musibah akibat tetesan-tetesan air hujan yang turun dari langit? Dukungan baik materil dan doa merupakan amal yang hanya kepada Allah-lah kita semua mengharapkan balasannya. Kepada semua teman yang memiliki rezki, ini adalah momen yang tepat untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap sesama manusia.
Kita sudah terbiasa mendengar bencana di negeri ini. Diantaranya, Aceh (Tsunami), Nias (Gempa), Bantul (Gempa), Sidoarjo (Lumpur Panas), Tamiang (Banjir), bahkan di luar negeri, kurang lebih 189.000 jamaah haji Indonesia terlantar ketika hendak melaksanakan Wukuf di Arafah. Sekarang, Jakartapun mengalami bencana yang tidak kalah hebatnya. Adakah kita mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian ini?
Belum lagi kasus-kasus kesehatan seperti flu burung (No. 1 terparah di dunia) dan demam berdarah, Di tambah lagi dengan permasalahan pemerintah seperti korupsi, wakil rakyat yang tidak amanah, kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, dsb. Kemudian persoalan sosial seperti perzinahan, perselingkuhan, judi, narkoba, pembunuhan, pencurian dsb, yang semuanya pasti mengandung suatu pesan yang sangat fundamental. Sedemikian banyaknya persoalan kita, sehingga setiap individu wajib melakukan muhasabah (introspeksi) yang serius pada dirinya masing-masing.
Sebagai makhluk yang ber-Tuhan kepada Yang Maha Esa, semua ini tentu terjadi atas kehendak-Nya. Ada sebuah “peringatan” yang harus difikirkan agar menjadi pelajaran bagi setiap individu. Bila kita tidak mengacuhkan hal pelajaran ini, keadaan akan tetap, bahkan semakin parah di masa yang akan datang.
Saya ingin mencoba memberikan penjelasan dari perspektif agama Islam. Allah Swt telah berfirman di dalam Al Quran surat Ar Ra’ad ayat 11 sebagai berikut :
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(QS. Ar Ra’ad 11)
Sebagai negara yang jumlah penganut agama Islamnya terbesar di dunia, persoalan ini sangat erat kaitannya dengan masalah akidah yang merupakan fondasi dari Dienul Islam. Sebuah tulisan di Republika pada hari Jum’at, 2 Februari 2007, oleh Dr. Hamid, Director of Islamic Studies and Civilization, menjelaskan tentang Peradaban Islam dan Barat, memberi inspirasi bagi saya untuk membuat tulisan ini.
Banyak diantara kita menyangka bahwa Barat merupakan sebuah simbol kebebasan (freedom). Sebenarnya, Barat merupakan sebuah peradaban yang memiliki pandangan mendunia (world view) sebagaimana Islam. Seorang ahli yang meneliti tentang masalah peradaban dunia, Prof Fukuyama, mengatakan bahwa peradaban Islam bertentangan dengan peradaban Barat. Bila sebuah peradaban terlalu banyak mengkonsumsi prinsip-prinsip peradaban lain, maka peradaban tersebut akan mati/hilang. Sebagai contoh, jika peradaban Islam terlalu banyak mengkonsumsi nilai-nilai, prinsip, konsep hidup Barat, maka secara perlahan-lahan, peradaban Islam akan hilang. Atau dapat dikatakan peradaban Islam terhegemonikan oleh peradaban Barat.
Pandangan dunia (world view) dari Islam adalah menjadi Rahmatan lil A’lamin (rahmat bagi seluruh alam semesta). Sedangkan individual view-nya adalah menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah. Mari kita mengambil sebuah contoh agar dapat memahami hal ini, yaitu konsep waktu.
Menurut Pandangan Barat
Time is money. Waktu adalah uang. Konsep ini membuat orang memanage waktu dalam hidupnya untuk mencari uang/materi. Semua fikiran dan tenaga dicurahkan untuk mendapatkan materi. Menyebabkan timbulnya ideologi kapitalisme. Benda apapun, harus dapat ditransfer menjadi uang. Bahkan wanita sekalipun menjadi objek untuk memperoleh materi.
Pemikiran Barat diatas mempengaruhi setiap tindakan dalam kehidupan. Orang tidak lagi memperdulikan asalnya, apakah halal atau haram, yang penting mendapatkan uang yang sebanyak-banyaknya. Maka bersemilah budaya korupsi, sogok-menyogok dsb. Pandangan orangpun berubah. Yang menjadi tauladan (idola) adalah mereka yang mempunyai uang paling banyak. Bill Gates merupakan simbol keberhasilan pemikiran ini. Para artis, bintang film terkenal, pemain sepakbola terkenal, penyanyi terkenal bahkan dai terkenal dan kaya menjadi idola.
Konsep ini menjerumuskan orang kepada pemikiran bahwa rezeki yang diperolehnya merupakan hasil dari jerih payahnya semata, sehingga menumbuhkan sifat individualisme dan bakhil (cinta yang berlebihan terhadap harta). Dalam pemanfaat hartanya, dia akan cenderung berfoya-foya dan bermegah-megahan, untuk menunjukkan status-nya di masyarakat.
Mereka yang menganut konsep ini, baik disadari atau tidak, telah menjadi budak uang/harta, dan menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhannya.
Menurut Pandangan Islam
Konsep waktu dalam Islam dijelaskan didalam surat Al Ashr ayat 1 – 3.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada di dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Nasehat-menasehati dalam menaati kebenaran. Nasehat menasehati dalam kesabaran.”
Konsep ini menuntut umat Islam untuk memperhatikan dengan sungguh-sungguh 4 hal dalam mengisi waktu di dalam hidupnya :
- Senantiasa beriman kepada Allah dan terus meningkatkan keimanannya.
- Melakukan amal-amal sholeh, baik yang berhubungan vertikal kepada Allah, maupun hubungan muamalah kepada sesama manusia.
- Saling nasehat-menasehati dalam hal kebenaran
- Saling nasehat-menasehati dalam hal kesabaran.
Konsep hidup ini seiring dengan maksud Allah menciptakan manusia :
“Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Allah).“
(QS. Adz Dzariat :56)
Tujuan yang hendak dicapai dari ciptaan-Nya yang bernama “manusia”, yaitu menjadi orang yang bertakwa. Sebagai contoh dalam dalam hal puasa, Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa.”
Pemikiran ini mengarahkan orang memanfaatkan waktunya selama hidup untuk melakukan amal-amal kebaikan, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.. Sebagai contoh, wanita diperintah untuk menutup auratnya semata agar kehormatannya terjaga dan keelokan tubuhnya tidak dapat dinilai dengan uang/materi. Minuman keras dilarang karena dapat menghilangkan kesadaran dan merusak akal, sedangkankan Islam sangat menghargai kejernihan akal dalam berfikir.
Orang-orang yang menjadi tauladan hidupnya adalah pembawa risalah Islam, yaitu Nabi Muhammad Saw, para Siddiqqin, Shuhada, dan orang-orang sholeh.
Tuhan-Nya adalah Allah dengan kesaksiannya :
“Laa illa ha illallah, Muhammadar Rasulullah” (Tidak ada Tuhan selaian Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah.)
Kembali ke masalah bencana yang menimpa suatu negeri, di dalam Al Quran surat Al A’raf ayat 96 :
“Kalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, niscaya Kami bukakan kepada mereka berkah-berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), oleh sebab itu Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya itu.”
Bila kita memahami ayat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa permasalahan fundamental yang kita hadapi adalah masalah keimanan. Melihat kondisi masyarakat kita saat ini, yang semakin materialis dan meninggalkan ajaran agamanya, maka disadari atau tidak, kita terjebak kepada perbuatan “syirik” atau menyekutukan Allah. Di satu sisi kita bersaksi bahwa “Tidak ada Tuhan selain Allah”, namun, dalam keseharian, kita menuhankan Hawa Nafsu kita, mengabaikan perintah dan melanggar larangan-larangan-Nya.
Allah Swt telah memperingatkan hal ini di dalam surat Al Jaatsiyah ayat 23 :
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.”
Kita memang tidak menjadikan Latta, Uzza dan Manna sebagai sembahan, sebagaimana masyarakat jahiliyah dahulu, akan tetapi tanpa kita sadari, pola fikir kita telah menjerumuskan kita pada tindakan-tindakan syirik. Seorang yang sangat bijak dan di-abadikan namanya di dalam Al Quran bernama Lukman al Hakim, telah memperingatkan anaknya agar waspada terhadap hal ini :
“….Hai anakku, jangan kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
(QS. Lukman ayat 13)
Maka, jika kita tidak merubah pola fikir, tindakan, dan memperbaiki iman kita, azab Allah tidak akan berhenti menimpa negeri ini. Sesungguhnya bukanlah banjir, kemiskinan, kelaparan, gempa bumi atau bencana lain yang perlu ditakuti, namun yang harus ditakuti adalah turunnya Azab Allah akibat kelalaian kita dalam memahami petunjuk-Nya, menjalankan perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Bila ajal menimpa kita dalam keadaan seperti ini (lalai), tertutuplah pintu-pintu taubat, dan penyesalanpun tidak berguna lagi.
Kembali ke jalan yang lurus (benar)
Bencana-bencana yang menimpa bangsa kita adalah cobaan dari Allah agar kita kembali kepada jalan yang benar, sebagaimana Firman Allah di dalam surat Ar Rum ayat 41 :
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Untuk mengingatkan kembali, di dalam sholat kita bermohon 17 kali sehari agar Allah memberi kita petunjuk kepada jalan yang lurus.
“Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Yaitu, jalan orang-orang yang Engkau beri rahmat dan beri nikmat kepadanya, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan jalan orang-orang yang sesat.”
(Al Fatihah ayat 5-6)
Ini adalah inti dari doa setiap individu yang beragama Islam. Sebuah harapan yang hanya dapat diraih dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Tidakkah kalian merindukan pertemuan dengan orang-orang yang paling mulia, sejak awal diciptakannya bumi hingga hari akhir nanti?? Merekalah orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat secara hakiki, dan senantiasa berada dalam perlindungan-Nya.
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu, para Nabi-nabi, Siddiqiin (orang yang sikap, ucapan dan tindakan selalu benar), Shuhada (orang yang mati syahid), dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
(An Nisa ayat 69)
Kemudian, mereka yakin bahwa kebenaran datang dari Tuhannya ;
“Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, oleh sebab itu, jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (QS. An Nisa ayat 147)
Dan mereka yakin bahwa kitab Suci yang dibawakan oleh Rasul-Nya, adalah pedoman hidup yang memberikan petunjuk agar menjalani hidup dengan benar.
“Kitab (Al Qur’an) tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa”
(QS. Al Baqarah ayat 2)
Semoga bermanfaat, dan menjadi bahan interospeksi bagi kita semua.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Salahuddin H.